Kronik sengketa agraria adalah akibat, kapitalisme adalah sebab, tak peduli adalah tanda akhir kemanusiawian, diam adalah maut, dan mengaku peduli yang tetap diam adalah hiprokit.
Kamis yang menghitam, tinggalkan kenangan akan keberanian yang terlalu lama mendekam disudut kepengecutan saya.
Dibawah terik lagu wajib kebangsaan mahasiswa Darah Juang dan Buruh Tani diiringi orasi-orasi bernas, berani, dan lantang puan dan tuan yang bersatu dalam aksi solidaritas pejuang Kendeng Lestari. Suasana terromantis yang pernah saya rasakan sepanjang usia perkuliahan saya di kota dingin ini.
Bukan yang pertama bagi mereka, serdadu hitam pembela rakyat, tapi yang pertama bagi saya: mahasiswa tua yang lebih sering bermain ketimbang mikir, terlebih aksi, nol besar jawabannya.
Dibawah terik itu saya lihat semua golongan dengan berbagai ideologi dan pemikiran bersatu dalam Aliansi Malang Peduli Kendeng yang mampu menjadi wadah penampung kemarahan, kekecewaan, dan kemuakan mahasiswa terhadap pemerintahan rakus, beringas, dan tanpa ampun neoliberal.
Akhirnya sedikit marwah mahasiswa saya terlihat kembali, yang seharusnya benar-benar ada pada tempatnya sejak kemarin-kemarin. Marwah sebagai pembela rakyat kecil, pengecam pemerintah lalim, dan peneriak keadilan. Bukan sekedar peneliti yang duduk diam yang tak henti tawarkan paradoks peran mahasiswa bagi masyarakat, atau sekedar mahasiswa hedon bergaya parlente yang bercokol dengan gadget-gadget mahalnya penerus neoliberal kelak.
Akhirnya…. sungguh manis bukan?
Sedikit banyak, saya bersyukur dengan adanya kasus Kendeng ini. Karena kasus ini, banyak mahasiswa kembali ditampar untuk kesekian kalinya, kemudian terbangun dan tersadarkan, bahwa kami belum merdeka. Bahkan yang harus kami perangi adalah pemimpinnya sendiri, yang bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa yang sama. Berat, sungguh berat, kalau dijalani sendiri. Tuhan Maha Baik, kalau tidak seperti ini rasanya kami masih terus saja terlelap dalam zona nyamannya.
Semoga teriakan dan nyanyian pembelaan terhadap rakyat kecil dapat terkristalisasi dengan sempurna di otak dan hati kami. Bukan sekedar alasan eksistensi atau semacamnya. Semoga kalimat “Tuanku adalah rakyat. Jabatan adalah mandat” tidak hanya menjadi jargon manis politik busuk.
Pun semoga dapat menampar secara keras diri saya, puan, dan tuan yang terbelenggu rasa nyaman dari peran mahasiswa yang tidak sepatutnya dan menjadi pengingat diri selaku pemegang tonggak keadilan rakyat di masa esok.
Semoga, semoga.