Senin, 20 November 2017

J e n u h

“Menjelmalah menjadi jarak dan waktu”, ujarmu di hujan sore kala itu. Sampai-sampai hujan di sore hari selalu berhasil membuatku teringat padamu, bahkan saat kau telah tinggalkanku selama ini tanpa kejelasan.
Jangankan tergugu, bernapas saja aku tak bisa, demi mendengar kiranya lanjutan petir yang seperti apa yang akan kau sampaikan padaku.
Sepuluh detik, dua puluh detik, satu menit, sepuluh menit, dan….. “Maksudmu apa, Re?” akhirnya pertanyaan penuh rasa penasaran itu melesat juga, meski dengan suara yang teramat lirih.
“Aku jenuh.”
Dua kata yang baru saja kau ucapkan membuatku terngaga dan membelalak, bukan karena kaget, tapi terlebih karena tidak mengerti terhadap hal-hal yang  kauucapkan di hujan sore kala itu.
“Bila kau jenuh, lantas kau merasa pantas menyuruhku menjelma menjadi jarak dan waktu? Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya kau menyalahi semesta.” Entah darimana datangnya keberanian itu, yang jelas kini dia terdiam membisu dengan tatapan elang yang berhasil membuatku semakin berani membalas tatapan matanya.
“Jadilah jarak yang fana dan waktu yang abadi, sekaligus”, dengan congkak kauucapkan dengan nada begitu yakin kalimat yang sama sekali tidak dapat aku pahami itu. “Aku ingin ada secelah ruang dan jeda, di antar kita, apa kau tak jenuh selalu menjelma menjadi temali yang mengekang segala jarak dan waktu?” lanjutmu yang membuatku makin tak mengerti dengan apa yang kaubicarakan.
“Aku hanya butuh jarak dan waktu untuk melepas temali yang kau cipta, selebihnya biar aku yang urus.” Tidak sampai semenit kau mengatakan hal itu, kau berdiri dengan tetap memandangku, lalu kau pergi tinggalkan segala tanda tanya di hatiku. Hingga saat ini.

Kamis, 09 November 2017

Aku, kamu, kita, P O S E S I F.

Posesif adalah bersifat merasa menjadi pemilik, dimana hal tersebut ditunjukkan dengan sifat cemburu yang berlebih dan terkadang minim alasan yang keruan. Setidaknya itu adalah makna dari posesif yang saya pahami sebelum saya menonton film Posesif atau membaca artikel terkait posesif lebih lanjut.

Posesif dibungkus secara sempurna dalam suatu film yang dibintangi oleh Adipati Dolken (sebagai Yudhis) dan Putri Marino (sebagai Lala). Saat mau menonton film ini, jangan harap kita akan menonton film remaja yang romantis, yang menye, yang bikin baper atau layaknya film remaja lainnya. Jangan harap.
Edwin, Sutradara film Posesif memaparkan bahwasanya, “Pada film ini akan digambarkan tentang perasaan yang tidak terkontrol. Jatuh cinta yang intens dan jatuh cinta itu enggak main-main.”
Kemudian Penulis skenario, Gina S Noer, menyebutkan bahwa proses menulis Posesif dia lakoni dengan riset pada siswa SMP sampai kuliah. Dia melihat bagaimana fenomena hubungan pacaran yang kekinian. “Intinya dari ‘Posesif’ adalah jangan menganggap remeh perasaan jatuh cinta,” ujar Gina.
Lagu Banda Neira yang berjudul Sampai Jadi Debu, saya nobatkan sebagai lagu terromatis jauh sebelum lagu ini menjadi soundtrack film ini. Bahkan saya sering berkhayal bahwa lagu tersebut memang sengaja diciptakan teruntuk saya, tapi ntah oleh siapa, yang jelas bukan oleh kucing, namun kini terasa begitu menyeramkan. Bahkan untuk sekedar saya dengarkan sepintas lalu. Lagu yang manis manis dan romantis itu menjelma menjadi lagu penuh akan ancaman teror.
Teror yang sarat akan tuntutan untuk memiliki, menguasai, dan mengendalikan orangu yang disayangi maupun orang terdekat. Teror tersebut kurasa lebih seram dibanding film horror manapun, termasuk film garapan teranyar Joko Anwar yang sedang booming, namun belum juga berhasil saya tonton hingga saat ini, hih.
Bila saya belum menontonnya, lalu kenapa saya berujar teror akibat film Posesif lebih menyeramkan dibanding film horor Joko Anwar? Karena, jelas saja, bagaimana tidak seram kalau hal-hal yang berada di film itu ada di sekitar kita? Bisa jadi teman, sahabat, atau saudara kita yang mengalaminya, atau bisa saja itu terjadi pada diri kita sendiri. Sangat mudah membayangkannya, karena posesif adalah hal yang dianggap lumrah di kehidupan kita. Hih.
Saya kadang heran sama masyarakat Indonesia, giliran adegan bercinta yang menunjukkan kasih sayang justru di sensor, memberi contoh tidak baik katanya. Tapi giliran pukul-pukulan, tonjok-tonjokkan, atau hal apapun yang berbau kekerasan justru diperbolehkan. Sampai-sampai kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan dalam berpacaran hanya dianggap sebagai urusan masing-masing. Gila saja kau, bung.

Rabu, 01 November 2017

Oktober, Penuh Cerita

Bulan Oktober diawali dan diakhiri dengan drama sederhana yang mampu memeras perasaan, hingga kering kerontang. Tinggal tunggu saja waktu kemarau usai, gugur semua harap dan cita yang telah lama coba untuk dipupuk dan dibuahi. Namun untung saja dewa hujan datang dengan tiba-tiba memberi secelah harapan untuk mengenang hal manis yang tercipta di antara kekeluan segala rasa dalam Oktober yang panjang.

Butuh kesabaran lebih dari biasanya untuk mampu mengisahkan seluruh rangkaian kelu Oktober.

Oktober kali ini mampu menamparku dengan keras hingga mampu membuatku melampaui kemanusiawian yang diciptakan pada sebuah norma kebiasaan yang salah kaprah. Karena sejatinya kemanusiawian itu bukan lahir dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri yang mampu menerima orang lain dan menempatkan diri kita sendiri sebagai manusia. Selama kita belum paham bagaimana etos kerja kemanusiaan, maka kita belum dapat dikatakan sebagai manusia beradab.

Oktober kali ini ajarkanku tentang sakralnya makna pertemanan, sampai-sampai aku mengeliminasi banyak orang sekitaranku yang selama ini kukira teman menjadi kenalanku saja. Tidak lebih.
Oktober kali ini ajarkanku tentang betapa sakitnya perpisahan itu, sampai-sampai aku terlalu takut  dan akan semakin takut untuk memulai segala sesuatu hanya karena aku terlalu takut  dan akan semakin takut untuk mengakhirinya.

Aku belum siap menghadapi segala sesuatu yang menguji kemanusiawianku, sungguh.

Jumat, 08 September 2017

Purna Purnama

Antara frasa yang bertaut kelindan pamer kemesraan fana, aku terdiam tergugu merangkai makna. Semua tentang purnama, katamu, yang selalu tertahan oleh segala rasa. Bahkan kopi pahit penghujung malam pun tak mampu gantikan segala sandiwara akan batasan rasa yang tak bermuara, sambutku yang tak kenal rana.
Lalu, antara sela palem-paleman dan temaram lampu jalanan kota, bersambut angin semilir yang senantiasa tunak pada keinginan rasa. Tiada canda tiada tawa mampu tercipta antara kita, sebab rasa yang khianati logika dengan lapang diterima semesta.
Tak apalah, semua terserahmu saja. Kutegak sekaligus segala derita yang terlanjur tercipta. Terserahmu saja mau menanggapi apa. Yang jelas, aku takkan mampu menjadi dia. Sama halnya dengan tidak akan pernah habis kisah purna purnama antara kita dalam sandiwara fana. 
Mungkin orang ‘kan iba bila saksikan derita yang terraba, namun purna purnama ‘kan bergelak abai dan membahana. Baginya, kita adalah sebatas ironi pengundang decak sunyi berebut sapa. Hingga terciptalah segala hampa yang bergema.
Sampai kapan pun juga, demi segala kenangan rindu bersama yang tak mampu terurai sempurna, kudermakan sajak purna purnama ini untukmu saja.

Jumat, 25 Agustus 2017

Kuakui, Aku Cemburu!

Hampir tepat tengah malam, dengan lantangnya hati ini berseru, bahwasanya aku cemburu. Sungguh. Nyeri betul rasanya. Cemburu ini seolah mampu memberangus raga rapuhku hanya dalam seperkian detik saja. Wush! Cepat sekali cemburu itu membakarku.
Celakanya, tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa diam dan membisu. Membiarkan cemburu ini terus menjalar dan membakar kalbu.
Tak ada sedikit pun kemanusiawian malam ini. Tak ada satu pun yang paham betul kemanusiawianku. Bahwasanya a k u c e m b u r u. Tapi tak apa, toh aku tak ingin juga orang lain terlalu memahamiku, aku takut kelemahanku akan tersaji hingga dilalati hingga kemudian membusuk mati.
Aku cemburu pada caramu mengenangnya. Aku cemburu pada caramu mengisahkannya. Aku cemburu pada caramu memperjuangkannya. Aku cemburu pada caramu menginginkannya. Aku cemburu pada segala hal caramu terkait tentangnya. Ya, aku sungguh cemburu. Aku cemburu karena aku pun ingin dikenang, dikisahkan, diperjuangkan, dan diinginkan seperti itu.
Tapi bukan darimu dan olehmu.

Selasa, 25 Juli 2017

Harapmu

“Yang kuiginkan hanyalah, harapku bersambut.”
Aku hanya terdiam menatapmu. Sedikit kusunggingkan seuntai senyum tuk sekedar membuatmu melihatku baik-baik saja. Setidaknya kau percaya itu, karena hatiku kini nyatanya remuk redam. Nyeri condong terpelintir.
Kutarik napas panjang sebelum kuciptakan lagi senyum semu dihadapanmu. Aku tak mengira, cemburu rasanya senyeri ini. Ah, entahlah apa yang harus kubenci. Dia, kamu, hati ini, atau pikiran sintingku sendiri yang selalu penuh akan imaji tentangmu.
“Aku hanya tak ingin kau masuk pada lubang yang sama.” Ujarku lirih, dan pedih. Entah kenapa suaraku mirip biola rusak. Benar-benar tidak enak untuk sekedar kudengarkan sendiri.
Mata bulatmu yang benar-benar hitam kelam, meraup udara sekitaranku. Sesak benar yang kau akibatkan. “Aku yakin, harapku akan bersambut. Entah esok, lusa, atau beka. Hanya tunggu waktu saja untuk benar-benar bersahabat dengan takdir semesta.”
Aku hanya bisa menatapmu tak percaya. Otakmu yang pintar itu kau kemanakan di saat seperti ini? Ah, kau ini bodoh atau tolol.
Jelas-jelas kau bisa hancur bersama harapan semumu. Tapi tetap saja kau pilih tekuni harap itu.
“Ah, kau tidak akan pernah mengerti memang.” Dengan ketusnya kau palingkan wajahmu dariku. 
Baik baik, bila itu maumu. Urus saja sesukamu semua harapmu itu. 
Apa-apa yang membuatmu bisa bertahan sebegitunya, semua bisa kutolerir. Terkecuali satu, kau butakan mata hatimu dengan mata duniamu.
“Terserahmu saja kalau begitu.” Ucapanku terlalu dingin untuk sekedar kudengar sendiri. Hilang sudah kehangatanku untukmu. Cukup sudah, mungkin ini akhir kisah kita.
Kumohon, jangan lagi singgah. Kutahu pasti kau mengerti aku tak suka bila hanya disinggahi. Duniaku tidak akan pernah menyambut harapmu.

Senin, 24 Juli 2017

Duri Mawar

Setajam-tajamnya duri, dia tak pernah melukai mawar. Meski kerelaannya tuk lindungi keindahan mawar berujung pada kerisihan dan ketidaksukaan setiap insan. Hingga akhirnya ia pun hilang, atau sengaja dihilangkan, hingga hilang, dalam kerelaan tak terbatas yang tak berbalas.
Lalu, apa yang harus kumaknai dari kisah duri mawar ini?
Kurasa kini kucukup pintar, dan terlalu egois. Dibandingku yang terdahulu.
Aku tak ingin menjadi keindahan mawar yang rapuh. Ataupun berakhir setragis kerelaan duri.
Namun nyatanya aku terlalu naif. Dibanding siapa-siapa yang mencoba membacaiku hingga kemput melalui sajak-sajak bisuku.
Bahwasanya, aku tak ingin mengakui dalam kisah duri mawar; aku tak punya pilihan menjadi keduanya.
Aku bukanlah duri penuh kerelaan ataupun mawar rapuh itu. Bukan.
Aku adalah insan yang mencabut kerelaan duri dan membuat mawar semakin ringkih tuk kudekap.

Kamis, 20 Juli 2017

Pengakuan

Pengakuan itu terlontar begitu saja. Terbawa angin kemudian larut dilarung debur ombak dan mengendap ke dasar palung samudera tak bermuara.
“Apa kau bilang?” tanyamu terkaget dibarengi wajah bingung. Ah, jangankan dirimu, aku saja bingung.
“Aku terbiasa hidup mengangkasa.” Ujarku yang kuyakin terdengar tegas, namun perasaan gamang hadir tanpa permisi.
“Ya, aku dengar kalimatmu itu. Tapi aku tak mengerti, apa maksudmu sebenarnya?” tanyamu sekali lagi, terdengar begitu tak sabar dan gusar.
Dengan sedikit cemas kutatap kedua mata coklat beningmu. Mata itu masih sama seperti mata yang begitu kusukai untuk menghabiskan waktu selama ini. Bening dan tabah, juga sedalam lumpur hisap. Sungguh melenakan.
“Jalanilah hidupmu, sesukamu. Pun begitu, aku. Jangan kenang lagi kisah kita, karena semua itu hanyalah ketidaksengajaan yang tidak akan pernah punya akhir indah.” Perlahan aku berusaha pilih diksi terbaik yang bisa kupikirkan. “Terutama bagimu, yang tak sedikit pun tahu bagaimana kerasnya hidup di angkasa.”
“Maka, ajari aku memahaminya.” Singkatmu buatku terkesiap. Besar juga ragamu menantang angkasa. “Lalu kenapa kau memilih untuk terbang? Padahal kau tahu, kau tak bisa begitu saja menembus halimun, meski kau terbang.” Sambungmu benar-benar tak sopan bagi seekor kupu-kupu malam bersayap hitam sepertiku.
Kali ini aku benar-benar tak mampu menahan air mataku untuk tidak mengalir. Guratan khawatir di matamu dan sudut bibirmu, buatku resah dan sedikit gusar.
“Bukan berarti seekor kupu-kupu malam bersayap hitam sepertimu tak mampu hidup bila tak diangkasa. Ataupun kewajiban tuk berada dibalik bayang-bayang raksasa di tapal batas cita dan realita.” Selorohmu seraya memelukku erat sekali, sampai-sampai kurasa aku kini menyatu dalam dirimu. “Jangan pernah terbang sendiri bila sayapmu pincang. Izinkan aku mengobatinya, lalu izinkan aku pula disisimu. Baik di angkasa maupun di bumi. Karena kau adalah satu jiwa hidupku.”

Selasa, 18 Juli 2017

5 Menit dalam Sajak Birumu

Biru kala itu, terlihat begitu jelas dari nanarnya mata beningmu yang tak sipit, namun tidak cukup pula kukatakan serupa dengan bola pingpong seperti lirik lagu nostalgic. Tenang dan menghanyutkanku, baik sebahagian maupun keseluruhanku. Hingga mampu membuatku ingin berlama-lama berenanginya.
“Aku cemburu padanya.” Ujarmu, selirih sepoi angin siang itu.
Aku hanya diam menatapmu heran. Apa gerangan yang kau ucapkan. Sungguh otakku terlalu bebal untuk sekedar mengerti.
Bibirmu nampak tak bergeming, terkatup rapat. Tanpa senyum tanpa kasih tersirat.
“Aku cemburu pada sajak-sajak yang kau baca. Aku cemburu padanya yang menjadi orang ketiga antara sajak kita yang bergelora.”
Oh, apakah kau merajuk padaku, kasih? Manis sekali caramu kalau begitu.
“Kenapa kau diam saja?” Rajukmu semakin menjadi, dan membuat senyumku makin melebar.
“Untuk apa kau risaukan hal ini? Bilamana hanya sajakmu yang kan selalu menjadi duniaku.” Lirih kuberujar. “Karena sajakmu adalah dahagaku. Aku membutuhkannya untuk bisa meraupmu dalam-dalam hingga sekat-sekat persendian ini ngilu dibuatnya.”
Semesta sunyi seolah ikut menyimak percakapanku dan mu kala itu. Hikmat dan bersahaja.
“Aku tak suka dusta. Terlebih dusta yang menyeret kesucian sajakku.” Ucapanmu begitu sinis. Dan tatapan itu menjadi tatapan terasing yang pernah kulihat darimu.
Oh tidak. Kau benar-benar terbakar rupanya. Mampuslah aku.
Rupanya dustaku tak luput dari nyalangnya matamu. 
Tak ada lagi yang bisa kuucapkan padamu. Ucapanmu terlalu klise. Bahkan untuk sekedar kutanggapi.
Kau sering merajuk, terlebih melalui sajakmu. Hingga aku paham betul tabiatmu itu. Namun tidak kali ini, kau merajukku begitu intens.
Tapi bila dihitung-hitung, belum ada 5 menit kau menghanyutkanku pada biru nanarnya matamu.
Ah, bukan hanya biru kini yang kulihat. Ada warna kehijauan, kemerahan, sedikit ungu, dan sedikit jingga juga disana. Warnamu semakin beragam. Apakah itu memiliki arti bagus untukku?
“Berhentilah menilaiku,” ucapmu lirih menampar sanubariku. “Terlebih dari mataku. Percayalah, kau takkan mampu benar-benar mengetahuiku dari sana.” Lanjutmu yang membuatku semakin gamang duduk di hadapanmu.
“Berhentilah menilaiku dengan caramu.” Ucapmu lagi, yang kini mampu menyetel lagu 90an dari radio usang yang bunyinya masih keruan untuk sekedar menghibur jantungku yang berderap merayap demi menyusup melewati nanar matamu.
Ah, maaf bila kau tak suka. Matamu tetap akan menjadi lautan tenang bagiku, baik kini maupun beka.
“Berhentilah sampai disini.” Tekanmu lagi tak kenal menyerah.
“Berhentilah menyuruhku berhenti. Kau pikir karena sajakmu membuatku hidup, lalu kau dapat memerintahku sesukamu?” Tanyaku tak ingin begitu saja larut dalam narasi ciptaannya.
“Ada apa sebenarnya denganmu?” Akhirnya kuberani menanyakan pertanyaan 5 menit terakhir yang menghantam-hantam kepalaku hingga nyeri.
“Sudah kubilang, aku cemburu.” 
“Sungguh aku tak mengertimu.”
“Yah, seperti yang kubilang. Kau takkan mampu menilaiku dari mataku.”
“Selamat kalau begitu. Kau benar. Kau menang.”
“Aku memang benar, tapi aku tak ingin menang.”
“Lalu?”
“Aku bersamamu selama ini, dan dihadapanmu kali ini, bukan untuk menang.”
“Tapi nyatanya begitu. Kau menantangku dengan tajamnya matamu dan lidahmu sejak 5 menit yang lalu.”
Kau menarik napas dalam, kemudian kau lepaskan begitu perlahan. Begitu tenang. Bila saja aku tak ingat 5 menit penghakimanmu padaku, rasanya aku ingin meraup napasmu hingga menyatu denganku seutuhnya. Sayangnya, kau kini sedang menyebalkan. Hih.
“Kenapa kau terlihat sebal begitu?” Tanyamu. Aneh.
“Kau pikir kenapa?”
“Ya, kenapa?”
“Ah aku benci dirimu.”
“Akhirnya, kau ucapkan kata-kata itu juga.” Lirihmu tenang sekali. Membuatku makin bingung dan gamang. “Aku tak ingin membuatmu selalu mencintaku. Baguslah kalau kini kau bisa membenciku.” Sambungmu mengherankanku pada tingkat keheranan yang tertinggi.
“Aku baru selesai mencipta sajak untukmu. Bagaimana, suka?” Senyummu kembali merekah bersamaan dengan tatapan dalam yang begitu tenang. “Sajakku untukmu tak melulu perkara cinta juga keindahan. Kuharap kau belajar itu hari ini.” 

Senin, 10 Juli 2017

Berbicara tentang kopi maka berbicara tentang rasa yang tidak berujung. Menghinggakanku tak pernah suka membicarakannya. Cukup nikmati saja hingga tandas tak bersisa, lalu kembali nikmatinya esok.

Selasa, 04 Juli 2017

Pesan Kepada Angin

Pada malam terlampau sepi nan gusar, gemintang bergeming menatapku yang enggan menyapanya. Tak terlalu berbeda dengan malam-malam sepiku lainnya. Hanya saja aku yang dulu berkawan akrab dengannya, kini hanya bertemankan sepoi angin.
Sampai-sampai kedekatanku dengan angin membuatku merupainya; berkelana tanpa tujuan, acuh terhadap sekitar, dan seringkali membuat orang sekitar sakit bilamana terlalu lama bergelut dan bermesraan dengannya. Benar-benar aku telah merupai angin.
Tapi akhir-akhir ini aku tak pernah menemuinya.
Bilamana suatu hari aku bersua dengannya, maka akan segera kupertanyakan apa yang hati ini risaukan tentang apa-apa yang serupa itu. Tentang akhir dari hubungan angin dan segala disekitarannya; tentang  usaha angin untuk berubah menjadi lebih baik; tentang kesedihan angin terhadap sikapnya sendiri; tentang  kebanggan angin terhadap pribadinya; tentang berbagai rasa yang dirasakannya; tentang  apa yang tidak kuketahui lagi pertanyaan macam apa yang belum kuutarakan.
Semoga angin lekas menemuiku dan menjelaskan padaku setelah ini.

Sabtu, 06 Mei 2017

Aku (masih dan semakin) Takut

Takutku yang sudah-sudah hanyalah ucapan semu belaka
Takut kehilanganmu
Takut jauh darimu
Takut menggilaimu
Takut mencintaimu
Dengan sangat teramat dan mendalam
Itu semua ketidakbenaran yang kuinginkan menjadi benar adanya
Itu semua hiburan jiwa yang dengan mati-matian kucipta melalui berbagai prosa
Itu semua karangan fiksi yang tak berdasar
Itu semua selaku mencari oase pada musim kemarau ditengah gurun terhampar
Karena sejatinya
Sampai detik ini aku tidaklah bisa memiliki suatu rasa yang biasa orang sebut itu,
Cinta.
Sedikitpun.

Lalu, bagaimana menurutmu?
Apakah takutku kini masih bisa digolongkan pada ke“semua”an yang kusebutkan di atas?

Rabu, 03 Mei 2017

Kamu, Kopi Cokelatku

Pahit kopi hitam bercampur cokelat
Sungguhlah pekat
Tapi itu tak seberapa
Dibanding dengan segala perkara dunia
Terlebih tentang dirimu
Baik seutuhnya maupun sebagianmu
Terlampau pekat
Bahkan untuk sekedar kuingat

Takut

Rindu ini semakin membisu. Hembuskan sepi tebarkan risau. Pun teramat pilu harapkan saut bersambut palsu.
Katamu, sore itu, tepat saat matahari bersinar setelah hujan “Tak perlu ada yang kau khawatirkan tentang kita”.
Aku hanya terpagut menatapmu hampa. Bukan karena aku gamang, tapi terlebih aku terpekur, bahwasanya aku salah kira. 
Tentangmu yang ternyata tak sedikit pun khawatirkan tentang kita.
“Kita kan selalu berteman. Baik sekarang, esok, lusa, maupun beka.” Sambungmu dengan senyum sumringah yang kau patenkan menjadi kekhasanmu.
Benar, aku pun setuju tentang itu. Tenang saja, aku tak pernah berpikir lebih dari itu. 
Aku cukup tau diri untuk tersadar akan segala hal yang tawarkan luka. Jujur saja yang kukhawatirkan adalah tentang dirimu seutuhnya.
Aku tak ingin kau terjebak dalam segala rasa yang tercipta dari segala suasana yang entah sejak kapan tercipta. Aku tak ingin kau nantinya menyeretku paksa merasakan rasa tabu itu. Aku tak ingin kau nantinya tinggalkanku seorang diri dalam kubangan pilu.  Aku tak ingin kau perdayaiku dengan tatapan melenakan itu.
Aku tak ingin….
Ah tunggu dulu. Rupanya aku salah bila  yang kukhawatirkan adalah tentang dirimu. Bukankah aku selalu berkutat tentang segala hal tentangku? Ah, ternyata.
Aku salah.
Jangan-jangan segala ketakutan yang kutujukan padamu sebenarnya kini sedang kualami? Jangan-jangan.
Oh tidak tidak.
Namun, bila iya, maka saat itulah aku menghilang dari duniamu.

Sabtu, 25 Maret 2017

Manifestasi Rasa

Kronik sengketa agraria adalah akibat, kapitalisme adalah sebab, tak peduli adalah tanda akhir kemanusiawian, diam adalah maut, dan mengaku peduli yang tetap diam adalah hiprokit. 

Kamis yang menghitam, tinggalkan kenangan akan keberanian yang terlalu lama mendekam disudut kepengecutan saya.

Dibawah terik lagu wajib kebangsaan mahasiswa Darah Juang dan Buruh Tani diiringi orasi-orasi bernas, berani, dan lantang puan dan tuan yang bersatu dalam aksi solidaritas pejuang Kendeng Lestari. Suasana terromantis yang pernah saya rasakan sepanjang usia perkuliahan saya di kota dingin ini.

Bukan yang pertama bagi mereka, serdadu hitam pembela rakyat, tapi yang pertama bagi saya: mahasiswa tua yang lebih sering bermain ketimbang mikir, terlebih aksi, nol besar jawabannya.

Dibawah terik itu saya lihat semua golongan dengan berbagai ideologi dan pemikiran bersatu dalam Aliansi Malang Peduli Kendeng yang mampu menjadi wadah penampung kemarahan, kekecewaan, dan kemuakan mahasiswa terhadap pemerintahan rakus, beringas, dan tanpa ampun neoliberal.

Akhirnya sedikit marwah mahasiswa saya terlihat kembali, yang seharusnya benar-benar ada pada tempatnya sejak kemarin-kemarin. Marwah sebagai pembela rakyat kecil, pengecam pemerintah lalim, dan peneriak keadilan. Bukan sekedar peneliti yang duduk diam yang tak henti tawarkan paradoks peran mahasiswa bagi masyarakat, atau sekedar mahasiswa hedon bergaya parlente yang bercokol dengan gadget-gadget mahalnya penerus neoliberal kelak.

Akhirnya…. sungguh manis bukan?

Sedikit banyak, saya bersyukur dengan adanya kasus Kendeng ini. Karena kasus ini, banyak mahasiswa kembali ditampar untuk kesekian kalinya, kemudian terbangun dan tersadarkan, bahwa kami belum merdeka. Bahkan yang harus kami perangi adalah pemimpinnya sendiri, yang bertumpah darah, berbangsa, dan berbahasa yang sama. Berat, sungguh berat, kalau dijalani sendiri. Tuhan Maha Baik, kalau tidak seperti ini rasanya kami masih terus saja terlelap dalam zona nyamannya.

Semoga teriakan dan nyanyian pembelaan terhadap rakyat kecil dapat terkristalisasi dengan sempurna di otak dan hati kami. Bukan sekedar alasan eksistensi atau semacamnya. Semoga kalimat “Tuanku adalah rakyat. Jabatan adalah mandat” tidak hanya menjadi jargon manis politik busuk.

Pun semoga dapat menampar secara keras diri saya, puan, dan tuan yang terbelenggu rasa nyaman dari peran mahasiswa yang tidak sepatutnya dan menjadi pengingat diri selaku pemegang tonggak keadilan rakyat di masa esok.

Semoga, semoga.