“Menjelmalah menjadi jarak dan waktu”, ujarmu di hujan sore kala itu. Sampai-sampai hujan di sore hari selalu berhasil membuatku teringat padamu, bahkan saat kau telah tinggalkanku selama ini tanpa kejelasan.
Jangankan tergugu, bernapas saja aku tak bisa, demi mendengar kiranya lanjutan petir yang seperti apa yang akan kau sampaikan padaku.
Sepuluh detik, dua puluh detik, satu menit, sepuluh menit, dan….. “Maksudmu apa, Re?” akhirnya pertanyaan penuh rasa penasaran itu melesat juga, meski dengan suara yang teramat lirih.
“Aku jenuh.”
Dua kata yang baru saja kau ucapkan membuatku terngaga dan membelalak, bukan karena kaget, tapi terlebih karena tidak mengerti terhadap hal-hal yang kauucapkan di hujan sore kala itu.
“Bila kau jenuh, lantas kau merasa pantas menyuruhku menjelma menjadi jarak dan waktu? Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya kau menyalahi semesta.” Entah darimana datangnya keberanian itu, yang jelas kini dia terdiam membisu dengan tatapan elang yang berhasil membuatku semakin berani membalas tatapan matanya.
“Jadilah jarak yang fana dan waktu yang abadi, sekaligus”, dengan congkak kauucapkan dengan nada begitu yakin kalimat yang sama sekali tidak dapat aku pahami itu. “Aku ingin ada secelah ruang dan jeda, di antar kita, apa kau tak jenuh selalu menjelma menjadi temali yang mengekang segala jarak dan waktu?” lanjutmu yang membuatku makin tak mengerti dengan apa yang kaubicarakan.
“Aku hanya butuh jarak dan waktu untuk melepas temali yang kau cipta, selebihnya biar aku yang urus.” Tidak sampai semenit kau mengatakan hal itu, kau berdiri dengan tetap memandangku, lalu kau pergi tinggalkan segala tanda tanya di hatiku. Hingga saat ini.