Sabtu, 06 Mei 2017

Aku (masih dan semakin) Takut

Takutku yang sudah-sudah hanyalah ucapan semu belaka
Takut kehilanganmu
Takut jauh darimu
Takut menggilaimu
Takut mencintaimu
Dengan sangat teramat dan mendalam
Itu semua ketidakbenaran yang kuinginkan menjadi benar adanya
Itu semua hiburan jiwa yang dengan mati-matian kucipta melalui berbagai prosa
Itu semua karangan fiksi yang tak berdasar
Itu semua selaku mencari oase pada musim kemarau ditengah gurun terhampar
Karena sejatinya
Sampai detik ini aku tidaklah bisa memiliki suatu rasa yang biasa orang sebut itu,
Cinta.
Sedikitpun.

Lalu, bagaimana menurutmu?
Apakah takutku kini masih bisa digolongkan pada ke“semua”an yang kusebutkan di atas?

Rabu, 03 Mei 2017

Kamu, Kopi Cokelatku

Pahit kopi hitam bercampur cokelat
Sungguhlah pekat
Tapi itu tak seberapa
Dibanding dengan segala perkara dunia
Terlebih tentang dirimu
Baik seutuhnya maupun sebagianmu
Terlampau pekat
Bahkan untuk sekedar kuingat

Takut

Rindu ini semakin membisu. Hembuskan sepi tebarkan risau. Pun teramat pilu harapkan saut bersambut palsu.
Katamu, sore itu, tepat saat matahari bersinar setelah hujan “Tak perlu ada yang kau khawatirkan tentang kita”.
Aku hanya terpagut menatapmu hampa. Bukan karena aku gamang, tapi terlebih aku terpekur, bahwasanya aku salah kira. 
Tentangmu yang ternyata tak sedikit pun khawatirkan tentang kita.
“Kita kan selalu berteman. Baik sekarang, esok, lusa, maupun beka.” Sambungmu dengan senyum sumringah yang kau patenkan menjadi kekhasanmu.
Benar, aku pun setuju tentang itu. Tenang saja, aku tak pernah berpikir lebih dari itu. 
Aku cukup tau diri untuk tersadar akan segala hal yang tawarkan luka. Jujur saja yang kukhawatirkan adalah tentang dirimu seutuhnya.
Aku tak ingin kau terjebak dalam segala rasa yang tercipta dari segala suasana yang entah sejak kapan tercipta. Aku tak ingin kau nantinya menyeretku paksa merasakan rasa tabu itu. Aku tak ingin kau nantinya tinggalkanku seorang diri dalam kubangan pilu.  Aku tak ingin kau perdayaiku dengan tatapan melenakan itu.
Aku tak ingin….
Ah tunggu dulu. Rupanya aku salah bila  yang kukhawatirkan adalah tentang dirimu. Bukankah aku selalu berkutat tentang segala hal tentangku? Ah, ternyata.
Aku salah.
Jangan-jangan segala ketakutan yang kutujukan padamu sebenarnya kini sedang kualami? Jangan-jangan.
Oh tidak tidak.
Namun, bila iya, maka saat itulah aku menghilang dari duniamu.