Rindu ini semakin membisu. Hembuskan sepi tebarkan risau. Pun teramat pilu harapkan saut bersambut palsu.
Katamu, sore itu, tepat saat matahari bersinar setelah hujan “Tak perlu ada yang kau khawatirkan tentang kita”.
Aku hanya terpagut menatapmu hampa. Bukan karena aku gamang, tapi terlebih aku terpekur, bahwasanya aku salah kira.
Tentangmu yang ternyata tak sedikit pun khawatirkan tentang kita.
“Kita kan selalu berteman. Baik sekarang, esok, lusa, maupun beka.” Sambungmu dengan senyum sumringah yang kau patenkan menjadi kekhasanmu.
Benar, aku pun setuju tentang itu. Tenang saja, aku tak pernah berpikir lebih dari itu.
Aku cukup tau diri untuk tersadar akan segala hal yang tawarkan luka. Jujur saja yang kukhawatirkan adalah tentang dirimu seutuhnya.
Aku tak ingin kau terjebak dalam segala rasa yang tercipta dari segala suasana yang entah sejak kapan tercipta. Aku tak ingin kau nantinya menyeretku paksa merasakan rasa tabu itu. Aku tak ingin kau nantinya tinggalkanku seorang diri dalam kubangan pilu. Aku tak ingin kau perdayaiku dengan tatapan melenakan itu.
Aku tak ingin….
Ah tunggu dulu. Rupanya aku salah bila yang kukhawatirkan adalah tentang dirimu. Bukankah aku selalu berkutat tentang segala hal tentangku? Ah, ternyata.
Aku salah.
Jangan-jangan segala ketakutan yang kutujukan padamu sebenarnya kini sedang kualami? Jangan-jangan.
Oh tidak tidak.
Namun, bila iya, maka saat itulah aku menghilang dari duniamu.