Takutku yang sudah-sudah hanyalah ucapan semu belaka
Takut kehilanganmu
Takut jauh darimu
Takut menggilaimu
Takut mencintaimu
Dengan sangat teramat dan mendalam
Itu semua ketidakbenaran yang kuinginkan menjadi benar adanya
Itu semua hiburan jiwa yang dengan mati-matian kucipta melalui berbagai prosa
Itu semua karangan fiksi yang tak berdasar
Itu semua selaku mencari oase pada musim kemarau ditengah gurun terhampar
Karena sejatinya
Sampai detik ini aku tidaklah bisa memiliki suatu rasa yang biasa orang sebut itu,
Cinta.
Sedikitpun.
Lalu, bagaimana menurutmu?
Apakah takutku kini masih bisa digolongkan pada ke“semua”an yang kusebutkan di atas?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar