Selasa, 25 Juli 2017

Harapmu

“Yang kuiginkan hanyalah, harapku bersambut.”
Aku hanya terdiam menatapmu. Sedikit kusunggingkan seuntai senyum tuk sekedar membuatmu melihatku baik-baik saja. Setidaknya kau percaya itu, karena hatiku kini nyatanya remuk redam. Nyeri condong terpelintir.
Kutarik napas panjang sebelum kuciptakan lagi senyum semu dihadapanmu. Aku tak mengira, cemburu rasanya senyeri ini. Ah, entahlah apa yang harus kubenci. Dia, kamu, hati ini, atau pikiran sintingku sendiri yang selalu penuh akan imaji tentangmu.
“Aku hanya tak ingin kau masuk pada lubang yang sama.” Ujarku lirih, dan pedih. Entah kenapa suaraku mirip biola rusak. Benar-benar tidak enak untuk sekedar kudengarkan sendiri.
Mata bulatmu yang benar-benar hitam kelam, meraup udara sekitaranku. Sesak benar yang kau akibatkan. “Aku yakin, harapku akan bersambut. Entah esok, lusa, atau beka. Hanya tunggu waktu saja untuk benar-benar bersahabat dengan takdir semesta.”
Aku hanya bisa menatapmu tak percaya. Otakmu yang pintar itu kau kemanakan di saat seperti ini? Ah, kau ini bodoh atau tolol.
Jelas-jelas kau bisa hancur bersama harapan semumu. Tapi tetap saja kau pilih tekuni harap itu.
“Ah, kau tidak akan pernah mengerti memang.” Dengan ketusnya kau palingkan wajahmu dariku. 
Baik baik, bila itu maumu. Urus saja sesukamu semua harapmu itu. 
Apa-apa yang membuatmu bisa bertahan sebegitunya, semua bisa kutolerir. Terkecuali satu, kau butakan mata hatimu dengan mata duniamu.
“Terserahmu saja kalau begitu.” Ucapanku terlalu dingin untuk sekedar kudengar sendiri. Hilang sudah kehangatanku untukmu. Cukup sudah, mungkin ini akhir kisah kita.
Kumohon, jangan lagi singgah. Kutahu pasti kau mengerti aku tak suka bila hanya disinggahi. Duniaku tidak akan pernah menyambut harapmu.

Senin, 24 Juli 2017

Duri Mawar

Setajam-tajamnya duri, dia tak pernah melukai mawar. Meski kerelaannya tuk lindungi keindahan mawar berujung pada kerisihan dan ketidaksukaan setiap insan. Hingga akhirnya ia pun hilang, atau sengaja dihilangkan, hingga hilang, dalam kerelaan tak terbatas yang tak berbalas.
Lalu, apa yang harus kumaknai dari kisah duri mawar ini?
Kurasa kini kucukup pintar, dan terlalu egois. Dibandingku yang terdahulu.
Aku tak ingin menjadi keindahan mawar yang rapuh. Ataupun berakhir setragis kerelaan duri.
Namun nyatanya aku terlalu naif. Dibanding siapa-siapa yang mencoba membacaiku hingga kemput melalui sajak-sajak bisuku.
Bahwasanya, aku tak ingin mengakui dalam kisah duri mawar; aku tak punya pilihan menjadi keduanya.
Aku bukanlah duri penuh kerelaan ataupun mawar rapuh itu. Bukan.
Aku adalah insan yang mencabut kerelaan duri dan membuat mawar semakin ringkih tuk kudekap.

Kamis, 20 Juli 2017

Pengakuan

Pengakuan itu terlontar begitu saja. Terbawa angin kemudian larut dilarung debur ombak dan mengendap ke dasar palung samudera tak bermuara.
“Apa kau bilang?” tanyamu terkaget dibarengi wajah bingung. Ah, jangankan dirimu, aku saja bingung.
“Aku terbiasa hidup mengangkasa.” Ujarku yang kuyakin terdengar tegas, namun perasaan gamang hadir tanpa permisi.
“Ya, aku dengar kalimatmu itu. Tapi aku tak mengerti, apa maksudmu sebenarnya?” tanyamu sekali lagi, terdengar begitu tak sabar dan gusar.
Dengan sedikit cemas kutatap kedua mata coklat beningmu. Mata itu masih sama seperti mata yang begitu kusukai untuk menghabiskan waktu selama ini. Bening dan tabah, juga sedalam lumpur hisap. Sungguh melenakan.
“Jalanilah hidupmu, sesukamu. Pun begitu, aku. Jangan kenang lagi kisah kita, karena semua itu hanyalah ketidaksengajaan yang tidak akan pernah punya akhir indah.” Perlahan aku berusaha pilih diksi terbaik yang bisa kupikirkan. “Terutama bagimu, yang tak sedikit pun tahu bagaimana kerasnya hidup di angkasa.”
“Maka, ajari aku memahaminya.” Singkatmu buatku terkesiap. Besar juga ragamu menantang angkasa. “Lalu kenapa kau memilih untuk terbang? Padahal kau tahu, kau tak bisa begitu saja menembus halimun, meski kau terbang.” Sambungmu benar-benar tak sopan bagi seekor kupu-kupu malam bersayap hitam sepertiku.
Kali ini aku benar-benar tak mampu menahan air mataku untuk tidak mengalir. Guratan khawatir di matamu dan sudut bibirmu, buatku resah dan sedikit gusar.
“Bukan berarti seekor kupu-kupu malam bersayap hitam sepertimu tak mampu hidup bila tak diangkasa. Ataupun kewajiban tuk berada dibalik bayang-bayang raksasa di tapal batas cita dan realita.” Selorohmu seraya memelukku erat sekali, sampai-sampai kurasa aku kini menyatu dalam dirimu. “Jangan pernah terbang sendiri bila sayapmu pincang. Izinkan aku mengobatinya, lalu izinkan aku pula disisimu. Baik di angkasa maupun di bumi. Karena kau adalah satu jiwa hidupku.”

Selasa, 18 Juli 2017

5 Menit dalam Sajak Birumu

Biru kala itu, terlihat begitu jelas dari nanarnya mata beningmu yang tak sipit, namun tidak cukup pula kukatakan serupa dengan bola pingpong seperti lirik lagu nostalgic. Tenang dan menghanyutkanku, baik sebahagian maupun keseluruhanku. Hingga mampu membuatku ingin berlama-lama berenanginya.
“Aku cemburu padanya.” Ujarmu, selirih sepoi angin siang itu.
Aku hanya diam menatapmu heran. Apa gerangan yang kau ucapkan. Sungguh otakku terlalu bebal untuk sekedar mengerti.
Bibirmu nampak tak bergeming, terkatup rapat. Tanpa senyum tanpa kasih tersirat.
“Aku cemburu pada sajak-sajak yang kau baca. Aku cemburu padanya yang menjadi orang ketiga antara sajak kita yang bergelora.”
Oh, apakah kau merajuk padaku, kasih? Manis sekali caramu kalau begitu.
“Kenapa kau diam saja?” Rajukmu semakin menjadi, dan membuat senyumku makin melebar.
“Untuk apa kau risaukan hal ini? Bilamana hanya sajakmu yang kan selalu menjadi duniaku.” Lirih kuberujar. “Karena sajakmu adalah dahagaku. Aku membutuhkannya untuk bisa meraupmu dalam-dalam hingga sekat-sekat persendian ini ngilu dibuatnya.”
Semesta sunyi seolah ikut menyimak percakapanku dan mu kala itu. Hikmat dan bersahaja.
“Aku tak suka dusta. Terlebih dusta yang menyeret kesucian sajakku.” Ucapanmu begitu sinis. Dan tatapan itu menjadi tatapan terasing yang pernah kulihat darimu.
Oh tidak. Kau benar-benar terbakar rupanya. Mampuslah aku.
Rupanya dustaku tak luput dari nyalangnya matamu. 
Tak ada lagi yang bisa kuucapkan padamu. Ucapanmu terlalu klise. Bahkan untuk sekedar kutanggapi.
Kau sering merajuk, terlebih melalui sajakmu. Hingga aku paham betul tabiatmu itu. Namun tidak kali ini, kau merajukku begitu intens.
Tapi bila dihitung-hitung, belum ada 5 menit kau menghanyutkanku pada biru nanarnya matamu.
Ah, bukan hanya biru kini yang kulihat. Ada warna kehijauan, kemerahan, sedikit ungu, dan sedikit jingga juga disana. Warnamu semakin beragam. Apakah itu memiliki arti bagus untukku?
“Berhentilah menilaiku,” ucapmu lirih menampar sanubariku. “Terlebih dari mataku. Percayalah, kau takkan mampu benar-benar mengetahuiku dari sana.” Lanjutmu yang membuatku semakin gamang duduk di hadapanmu.
“Berhentilah menilaiku dengan caramu.” Ucapmu lagi, yang kini mampu menyetel lagu 90an dari radio usang yang bunyinya masih keruan untuk sekedar menghibur jantungku yang berderap merayap demi menyusup melewati nanar matamu.
Ah, maaf bila kau tak suka. Matamu tetap akan menjadi lautan tenang bagiku, baik kini maupun beka.
“Berhentilah sampai disini.” Tekanmu lagi tak kenal menyerah.
“Berhentilah menyuruhku berhenti. Kau pikir karena sajakmu membuatku hidup, lalu kau dapat memerintahku sesukamu?” Tanyaku tak ingin begitu saja larut dalam narasi ciptaannya.
“Ada apa sebenarnya denganmu?” Akhirnya kuberani menanyakan pertanyaan 5 menit terakhir yang menghantam-hantam kepalaku hingga nyeri.
“Sudah kubilang, aku cemburu.” 
“Sungguh aku tak mengertimu.”
“Yah, seperti yang kubilang. Kau takkan mampu menilaiku dari mataku.”
“Selamat kalau begitu. Kau benar. Kau menang.”
“Aku memang benar, tapi aku tak ingin menang.”
“Lalu?”
“Aku bersamamu selama ini, dan dihadapanmu kali ini, bukan untuk menang.”
“Tapi nyatanya begitu. Kau menantangku dengan tajamnya matamu dan lidahmu sejak 5 menit yang lalu.”
Kau menarik napas dalam, kemudian kau lepaskan begitu perlahan. Begitu tenang. Bila saja aku tak ingat 5 menit penghakimanmu padaku, rasanya aku ingin meraup napasmu hingga menyatu denganku seutuhnya. Sayangnya, kau kini sedang menyebalkan. Hih.
“Kenapa kau terlihat sebal begitu?” Tanyamu. Aneh.
“Kau pikir kenapa?”
“Ya, kenapa?”
“Ah aku benci dirimu.”
“Akhirnya, kau ucapkan kata-kata itu juga.” Lirihmu tenang sekali. Membuatku makin bingung dan gamang. “Aku tak ingin membuatmu selalu mencintaku. Baguslah kalau kini kau bisa membenciku.” Sambungmu mengherankanku pada tingkat keheranan yang tertinggi.
“Aku baru selesai mencipta sajak untukmu. Bagaimana, suka?” Senyummu kembali merekah bersamaan dengan tatapan dalam yang begitu tenang. “Sajakku untukmu tak melulu perkara cinta juga keindahan. Kuharap kau belajar itu hari ini.” 

Senin, 10 Juli 2017

Berbicara tentang kopi maka berbicara tentang rasa yang tidak berujung. Menghinggakanku tak pernah suka membicarakannya. Cukup nikmati saja hingga tandas tak bersisa, lalu kembali nikmatinya esok.

Selasa, 04 Juli 2017

Pesan Kepada Angin

Pada malam terlampau sepi nan gusar, gemintang bergeming menatapku yang enggan menyapanya. Tak terlalu berbeda dengan malam-malam sepiku lainnya. Hanya saja aku yang dulu berkawan akrab dengannya, kini hanya bertemankan sepoi angin.
Sampai-sampai kedekatanku dengan angin membuatku merupainya; berkelana tanpa tujuan, acuh terhadap sekitar, dan seringkali membuat orang sekitar sakit bilamana terlalu lama bergelut dan bermesraan dengannya. Benar-benar aku telah merupai angin.
Tapi akhir-akhir ini aku tak pernah menemuinya.
Bilamana suatu hari aku bersua dengannya, maka akan segera kupertanyakan apa yang hati ini risaukan tentang apa-apa yang serupa itu. Tentang akhir dari hubungan angin dan segala disekitarannya; tentang  usaha angin untuk berubah menjadi lebih baik; tentang kesedihan angin terhadap sikapnya sendiri; tentang  kebanggan angin terhadap pribadinya; tentang berbagai rasa yang dirasakannya; tentang  apa yang tidak kuketahui lagi pertanyaan macam apa yang belum kuutarakan.
Semoga angin lekas menemuiku dan menjelaskan padaku setelah ini.