Senin, 24 Juli 2017

Duri Mawar

Setajam-tajamnya duri, dia tak pernah melukai mawar. Meski kerelaannya tuk lindungi keindahan mawar berujung pada kerisihan dan ketidaksukaan setiap insan. Hingga akhirnya ia pun hilang, atau sengaja dihilangkan, hingga hilang, dalam kerelaan tak terbatas yang tak berbalas.
Lalu, apa yang harus kumaknai dari kisah duri mawar ini?
Kurasa kini kucukup pintar, dan terlalu egois. Dibandingku yang terdahulu.
Aku tak ingin menjadi keindahan mawar yang rapuh. Ataupun berakhir setragis kerelaan duri.
Namun nyatanya aku terlalu naif. Dibanding siapa-siapa yang mencoba membacaiku hingga kemput melalui sajak-sajak bisuku.
Bahwasanya, aku tak ingin mengakui dalam kisah duri mawar; aku tak punya pilihan menjadi keduanya.
Aku bukanlah duri penuh kerelaan ataupun mawar rapuh itu. Bukan.
Aku adalah insan yang mencabut kerelaan duri dan membuat mawar semakin ringkih tuk kudekap.

Tidak ada komentar: