Senin, 20 November 2017

J e n u h

“Menjelmalah menjadi jarak dan waktu”, ujarmu di hujan sore kala itu. Sampai-sampai hujan di sore hari selalu berhasil membuatku teringat padamu, bahkan saat kau telah tinggalkanku selama ini tanpa kejelasan.
Jangankan tergugu, bernapas saja aku tak bisa, demi mendengar kiranya lanjutan petir yang seperti apa yang akan kau sampaikan padaku.
Sepuluh detik, dua puluh detik, satu menit, sepuluh menit, dan….. “Maksudmu apa, Re?” akhirnya pertanyaan penuh rasa penasaran itu melesat juga, meski dengan suara yang teramat lirih.
“Aku jenuh.”
Dua kata yang baru saja kau ucapkan membuatku terngaga dan membelalak, bukan karena kaget, tapi terlebih karena tidak mengerti terhadap hal-hal yang  kauucapkan di hujan sore kala itu.
“Bila kau jenuh, lantas kau merasa pantas menyuruhku menjelma menjadi jarak dan waktu? Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya kau menyalahi semesta.” Entah darimana datangnya keberanian itu, yang jelas kini dia terdiam membisu dengan tatapan elang yang berhasil membuatku semakin berani membalas tatapan matanya.
“Jadilah jarak yang fana dan waktu yang abadi, sekaligus”, dengan congkak kauucapkan dengan nada begitu yakin kalimat yang sama sekali tidak dapat aku pahami itu. “Aku ingin ada secelah ruang dan jeda, di antar kita, apa kau tak jenuh selalu menjelma menjadi temali yang mengekang segala jarak dan waktu?” lanjutmu yang membuatku makin tak mengerti dengan apa yang kaubicarakan.
“Aku hanya butuh jarak dan waktu untuk melepas temali yang kau cipta, selebihnya biar aku yang urus.” Tidak sampai semenit kau mengatakan hal itu, kau berdiri dengan tetap memandangku, lalu kau pergi tinggalkan segala tanda tanya di hatiku. Hingga saat ini.

Kamis, 09 November 2017

Aku, kamu, kita, P O S E S I F.

Posesif adalah bersifat merasa menjadi pemilik, dimana hal tersebut ditunjukkan dengan sifat cemburu yang berlebih dan terkadang minim alasan yang keruan. Setidaknya itu adalah makna dari posesif yang saya pahami sebelum saya menonton film Posesif atau membaca artikel terkait posesif lebih lanjut.

Posesif dibungkus secara sempurna dalam suatu film yang dibintangi oleh Adipati Dolken (sebagai Yudhis) dan Putri Marino (sebagai Lala). Saat mau menonton film ini, jangan harap kita akan menonton film remaja yang romantis, yang menye, yang bikin baper atau layaknya film remaja lainnya. Jangan harap.
Edwin, Sutradara film Posesif memaparkan bahwasanya, “Pada film ini akan digambarkan tentang perasaan yang tidak terkontrol. Jatuh cinta yang intens dan jatuh cinta itu enggak main-main.”
Kemudian Penulis skenario, Gina S Noer, menyebutkan bahwa proses menulis Posesif dia lakoni dengan riset pada siswa SMP sampai kuliah. Dia melihat bagaimana fenomena hubungan pacaran yang kekinian. “Intinya dari ‘Posesif’ adalah jangan menganggap remeh perasaan jatuh cinta,” ujar Gina.
Lagu Banda Neira yang berjudul Sampai Jadi Debu, saya nobatkan sebagai lagu terromatis jauh sebelum lagu ini menjadi soundtrack film ini. Bahkan saya sering berkhayal bahwa lagu tersebut memang sengaja diciptakan teruntuk saya, tapi ntah oleh siapa, yang jelas bukan oleh kucing, namun kini terasa begitu menyeramkan. Bahkan untuk sekedar saya dengarkan sepintas lalu. Lagu yang manis manis dan romantis itu menjelma menjadi lagu penuh akan ancaman teror.
Teror yang sarat akan tuntutan untuk memiliki, menguasai, dan mengendalikan orangu yang disayangi maupun orang terdekat. Teror tersebut kurasa lebih seram dibanding film horror manapun, termasuk film garapan teranyar Joko Anwar yang sedang booming, namun belum juga berhasil saya tonton hingga saat ini, hih.
Bila saya belum menontonnya, lalu kenapa saya berujar teror akibat film Posesif lebih menyeramkan dibanding film horor Joko Anwar? Karena, jelas saja, bagaimana tidak seram kalau hal-hal yang berada di film itu ada di sekitar kita? Bisa jadi teman, sahabat, atau saudara kita yang mengalaminya, atau bisa saja itu terjadi pada diri kita sendiri. Sangat mudah membayangkannya, karena posesif adalah hal yang dianggap lumrah di kehidupan kita. Hih.
Saya kadang heran sama masyarakat Indonesia, giliran adegan bercinta yang menunjukkan kasih sayang justru di sensor, memberi contoh tidak baik katanya. Tapi giliran pukul-pukulan, tonjok-tonjokkan, atau hal apapun yang berbau kekerasan justru diperbolehkan. Sampai-sampai kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan dalam berpacaran hanya dianggap sebagai urusan masing-masing. Gila saja kau, bung.

Rabu, 01 November 2017

Oktober, Penuh Cerita

Bulan Oktober diawali dan diakhiri dengan drama sederhana yang mampu memeras perasaan, hingga kering kerontang. Tinggal tunggu saja waktu kemarau usai, gugur semua harap dan cita yang telah lama coba untuk dipupuk dan dibuahi. Namun untung saja dewa hujan datang dengan tiba-tiba memberi secelah harapan untuk mengenang hal manis yang tercipta di antara kekeluan segala rasa dalam Oktober yang panjang.

Butuh kesabaran lebih dari biasanya untuk mampu mengisahkan seluruh rangkaian kelu Oktober.

Oktober kali ini mampu menamparku dengan keras hingga mampu membuatku melampaui kemanusiawian yang diciptakan pada sebuah norma kebiasaan yang salah kaprah. Karena sejatinya kemanusiawian itu bukan lahir dari orang lain, melainkan dari diri kita sendiri yang mampu menerima orang lain dan menempatkan diri kita sendiri sebagai manusia. Selama kita belum paham bagaimana etos kerja kemanusiaan, maka kita belum dapat dikatakan sebagai manusia beradab.

Oktober kali ini ajarkanku tentang sakralnya makna pertemanan, sampai-sampai aku mengeliminasi banyak orang sekitaranku yang selama ini kukira teman menjadi kenalanku saja. Tidak lebih.
Oktober kali ini ajarkanku tentang betapa sakitnya perpisahan itu, sampai-sampai aku terlalu takut  dan akan semakin takut untuk memulai segala sesuatu hanya karena aku terlalu takut  dan akan semakin takut untuk mengakhirinya.

Aku belum siap menghadapi segala sesuatu yang menguji kemanusiawianku, sungguh.