Tampilkan postingan dengan label Kisah Pendek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Pendek. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 November 2017

J e n u h

“Menjelmalah menjadi jarak dan waktu”, ujarmu di hujan sore kala itu. Sampai-sampai hujan di sore hari selalu berhasil membuatku teringat padamu, bahkan saat kau telah tinggalkanku selama ini tanpa kejelasan.
Jangankan tergugu, bernapas saja aku tak bisa, demi mendengar kiranya lanjutan petir yang seperti apa yang akan kau sampaikan padaku.
Sepuluh detik, dua puluh detik, satu menit, sepuluh menit, dan….. “Maksudmu apa, Re?” akhirnya pertanyaan penuh rasa penasaran itu melesat juga, meski dengan suara yang teramat lirih.
“Aku jenuh.”
Dua kata yang baru saja kau ucapkan membuatku terngaga dan membelalak, bukan karena kaget, tapi terlebih karena tidak mengerti terhadap hal-hal yang  kauucapkan di hujan sore kala itu.
“Bila kau jenuh, lantas kau merasa pantas menyuruhku menjelma menjadi jarak dan waktu? Kau pikir kau siapa? Berani-beraninya kau menyalahi semesta.” Entah darimana datangnya keberanian itu, yang jelas kini dia terdiam membisu dengan tatapan elang yang berhasil membuatku semakin berani membalas tatapan matanya.
“Jadilah jarak yang fana dan waktu yang abadi, sekaligus”, dengan congkak kauucapkan dengan nada begitu yakin kalimat yang sama sekali tidak dapat aku pahami itu. “Aku ingin ada secelah ruang dan jeda, di antar kita, apa kau tak jenuh selalu menjelma menjadi temali yang mengekang segala jarak dan waktu?” lanjutmu yang membuatku makin tak mengerti dengan apa yang kaubicarakan.
“Aku hanya butuh jarak dan waktu untuk melepas temali yang kau cipta, selebihnya biar aku yang urus.” Tidak sampai semenit kau mengatakan hal itu, kau berdiri dengan tetap memandangku, lalu kau pergi tinggalkan segala tanda tanya di hatiku. Hingga saat ini.

Selasa, 25 Juli 2017

Harapmu

“Yang kuiginkan hanyalah, harapku bersambut.”
Aku hanya terdiam menatapmu. Sedikit kusunggingkan seuntai senyum tuk sekedar membuatmu melihatku baik-baik saja. Setidaknya kau percaya itu, karena hatiku kini nyatanya remuk redam. Nyeri condong terpelintir.
Kutarik napas panjang sebelum kuciptakan lagi senyum semu dihadapanmu. Aku tak mengira, cemburu rasanya senyeri ini. Ah, entahlah apa yang harus kubenci. Dia, kamu, hati ini, atau pikiran sintingku sendiri yang selalu penuh akan imaji tentangmu.
“Aku hanya tak ingin kau masuk pada lubang yang sama.” Ujarku lirih, dan pedih. Entah kenapa suaraku mirip biola rusak. Benar-benar tidak enak untuk sekedar kudengarkan sendiri.
Mata bulatmu yang benar-benar hitam kelam, meraup udara sekitaranku. Sesak benar yang kau akibatkan. “Aku yakin, harapku akan bersambut. Entah esok, lusa, atau beka. Hanya tunggu waktu saja untuk benar-benar bersahabat dengan takdir semesta.”
Aku hanya bisa menatapmu tak percaya. Otakmu yang pintar itu kau kemanakan di saat seperti ini? Ah, kau ini bodoh atau tolol.
Jelas-jelas kau bisa hancur bersama harapan semumu. Tapi tetap saja kau pilih tekuni harap itu.
“Ah, kau tidak akan pernah mengerti memang.” Dengan ketusnya kau palingkan wajahmu dariku. 
Baik baik, bila itu maumu. Urus saja sesukamu semua harapmu itu. 
Apa-apa yang membuatmu bisa bertahan sebegitunya, semua bisa kutolerir. Terkecuali satu, kau butakan mata hatimu dengan mata duniamu.
“Terserahmu saja kalau begitu.” Ucapanku terlalu dingin untuk sekedar kudengar sendiri. Hilang sudah kehangatanku untukmu. Cukup sudah, mungkin ini akhir kisah kita.
Kumohon, jangan lagi singgah. Kutahu pasti kau mengerti aku tak suka bila hanya disinggahi. Duniaku tidak akan pernah menyambut harapmu.

Kamis, 20 Juli 2017

Pengakuan

Pengakuan itu terlontar begitu saja. Terbawa angin kemudian larut dilarung debur ombak dan mengendap ke dasar palung samudera tak bermuara.
“Apa kau bilang?” tanyamu terkaget dibarengi wajah bingung. Ah, jangankan dirimu, aku saja bingung.
“Aku terbiasa hidup mengangkasa.” Ujarku yang kuyakin terdengar tegas, namun perasaan gamang hadir tanpa permisi.
“Ya, aku dengar kalimatmu itu. Tapi aku tak mengerti, apa maksudmu sebenarnya?” tanyamu sekali lagi, terdengar begitu tak sabar dan gusar.
Dengan sedikit cemas kutatap kedua mata coklat beningmu. Mata itu masih sama seperti mata yang begitu kusukai untuk menghabiskan waktu selama ini. Bening dan tabah, juga sedalam lumpur hisap. Sungguh melenakan.
“Jalanilah hidupmu, sesukamu. Pun begitu, aku. Jangan kenang lagi kisah kita, karena semua itu hanyalah ketidaksengajaan yang tidak akan pernah punya akhir indah.” Perlahan aku berusaha pilih diksi terbaik yang bisa kupikirkan. “Terutama bagimu, yang tak sedikit pun tahu bagaimana kerasnya hidup di angkasa.”
“Maka, ajari aku memahaminya.” Singkatmu buatku terkesiap. Besar juga ragamu menantang angkasa. “Lalu kenapa kau memilih untuk terbang? Padahal kau tahu, kau tak bisa begitu saja menembus halimun, meski kau terbang.” Sambungmu benar-benar tak sopan bagi seekor kupu-kupu malam bersayap hitam sepertiku.
Kali ini aku benar-benar tak mampu menahan air mataku untuk tidak mengalir. Guratan khawatir di matamu dan sudut bibirmu, buatku resah dan sedikit gusar.
“Bukan berarti seekor kupu-kupu malam bersayap hitam sepertimu tak mampu hidup bila tak diangkasa. Ataupun kewajiban tuk berada dibalik bayang-bayang raksasa di tapal batas cita dan realita.” Selorohmu seraya memelukku erat sekali, sampai-sampai kurasa aku kini menyatu dalam dirimu. “Jangan pernah terbang sendiri bila sayapmu pincang. Izinkan aku mengobatinya, lalu izinkan aku pula disisimu. Baik di angkasa maupun di bumi. Karena kau adalah satu jiwa hidupku.”

Selasa, 18 Juli 2017

5 Menit dalam Sajak Birumu

Biru kala itu, terlihat begitu jelas dari nanarnya mata beningmu yang tak sipit, namun tidak cukup pula kukatakan serupa dengan bola pingpong seperti lirik lagu nostalgic. Tenang dan menghanyutkanku, baik sebahagian maupun keseluruhanku. Hingga mampu membuatku ingin berlama-lama berenanginya.
“Aku cemburu padanya.” Ujarmu, selirih sepoi angin siang itu.
Aku hanya diam menatapmu heran. Apa gerangan yang kau ucapkan. Sungguh otakku terlalu bebal untuk sekedar mengerti.
Bibirmu nampak tak bergeming, terkatup rapat. Tanpa senyum tanpa kasih tersirat.
“Aku cemburu pada sajak-sajak yang kau baca. Aku cemburu padanya yang menjadi orang ketiga antara sajak kita yang bergelora.”
Oh, apakah kau merajuk padaku, kasih? Manis sekali caramu kalau begitu.
“Kenapa kau diam saja?” Rajukmu semakin menjadi, dan membuat senyumku makin melebar.
“Untuk apa kau risaukan hal ini? Bilamana hanya sajakmu yang kan selalu menjadi duniaku.” Lirih kuberujar. “Karena sajakmu adalah dahagaku. Aku membutuhkannya untuk bisa meraupmu dalam-dalam hingga sekat-sekat persendian ini ngilu dibuatnya.”
Semesta sunyi seolah ikut menyimak percakapanku dan mu kala itu. Hikmat dan bersahaja.
“Aku tak suka dusta. Terlebih dusta yang menyeret kesucian sajakku.” Ucapanmu begitu sinis. Dan tatapan itu menjadi tatapan terasing yang pernah kulihat darimu.
Oh tidak. Kau benar-benar terbakar rupanya. Mampuslah aku.
Rupanya dustaku tak luput dari nyalangnya matamu. 
Tak ada lagi yang bisa kuucapkan padamu. Ucapanmu terlalu klise. Bahkan untuk sekedar kutanggapi.
Kau sering merajuk, terlebih melalui sajakmu. Hingga aku paham betul tabiatmu itu. Namun tidak kali ini, kau merajukku begitu intens.
Tapi bila dihitung-hitung, belum ada 5 menit kau menghanyutkanku pada biru nanarnya matamu.
Ah, bukan hanya biru kini yang kulihat. Ada warna kehijauan, kemerahan, sedikit ungu, dan sedikit jingga juga disana. Warnamu semakin beragam. Apakah itu memiliki arti bagus untukku?
“Berhentilah menilaiku,” ucapmu lirih menampar sanubariku. “Terlebih dari mataku. Percayalah, kau takkan mampu benar-benar mengetahuiku dari sana.” Lanjutmu yang membuatku semakin gamang duduk di hadapanmu.
“Berhentilah menilaiku dengan caramu.” Ucapmu lagi, yang kini mampu menyetel lagu 90an dari radio usang yang bunyinya masih keruan untuk sekedar menghibur jantungku yang berderap merayap demi menyusup melewati nanar matamu.
Ah, maaf bila kau tak suka. Matamu tetap akan menjadi lautan tenang bagiku, baik kini maupun beka.
“Berhentilah sampai disini.” Tekanmu lagi tak kenal menyerah.
“Berhentilah menyuruhku berhenti. Kau pikir karena sajakmu membuatku hidup, lalu kau dapat memerintahku sesukamu?” Tanyaku tak ingin begitu saja larut dalam narasi ciptaannya.
“Ada apa sebenarnya denganmu?” Akhirnya kuberani menanyakan pertanyaan 5 menit terakhir yang menghantam-hantam kepalaku hingga nyeri.
“Sudah kubilang, aku cemburu.” 
“Sungguh aku tak mengertimu.”
“Yah, seperti yang kubilang. Kau takkan mampu menilaiku dari mataku.”
“Selamat kalau begitu. Kau benar. Kau menang.”
“Aku memang benar, tapi aku tak ingin menang.”
“Lalu?”
“Aku bersamamu selama ini, dan dihadapanmu kali ini, bukan untuk menang.”
“Tapi nyatanya begitu. Kau menantangku dengan tajamnya matamu dan lidahmu sejak 5 menit yang lalu.”
Kau menarik napas dalam, kemudian kau lepaskan begitu perlahan. Begitu tenang. Bila saja aku tak ingat 5 menit penghakimanmu padaku, rasanya aku ingin meraup napasmu hingga menyatu denganku seutuhnya. Sayangnya, kau kini sedang menyebalkan. Hih.
“Kenapa kau terlihat sebal begitu?” Tanyamu. Aneh.
“Kau pikir kenapa?”
“Ya, kenapa?”
“Ah aku benci dirimu.”
“Akhirnya, kau ucapkan kata-kata itu juga.” Lirihmu tenang sekali. Membuatku makin bingung dan gamang. “Aku tak ingin membuatmu selalu mencintaku. Baguslah kalau kini kau bisa membenciku.” Sambungmu mengherankanku pada tingkat keheranan yang tertinggi.
“Aku baru selesai mencipta sajak untukmu. Bagaimana, suka?” Senyummu kembali merekah bersamaan dengan tatapan dalam yang begitu tenang. “Sajakku untukmu tak melulu perkara cinta juga keindahan. Kuharap kau belajar itu hari ini.”