Selasa, 18 Juli 2017

5 Menit dalam Sajak Birumu

Biru kala itu, terlihat begitu jelas dari nanarnya mata beningmu yang tak sipit, namun tidak cukup pula kukatakan serupa dengan bola pingpong seperti lirik lagu nostalgic. Tenang dan menghanyutkanku, baik sebahagian maupun keseluruhanku. Hingga mampu membuatku ingin berlama-lama berenanginya.
“Aku cemburu padanya.” Ujarmu, selirih sepoi angin siang itu.
Aku hanya diam menatapmu heran. Apa gerangan yang kau ucapkan. Sungguh otakku terlalu bebal untuk sekedar mengerti.
Bibirmu nampak tak bergeming, terkatup rapat. Tanpa senyum tanpa kasih tersirat.
“Aku cemburu pada sajak-sajak yang kau baca. Aku cemburu padanya yang menjadi orang ketiga antara sajak kita yang bergelora.”
Oh, apakah kau merajuk padaku, kasih? Manis sekali caramu kalau begitu.
“Kenapa kau diam saja?” Rajukmu semakin menjadi, dan membuat senyumku makin melebar.
“Untuk apa kau risaukan hal ini? Bilamana hanya sajakmu yang kan selalu menjadi duniaku.” Lirih kuberujar. “Karena sajakmu adalah dahagaku. Aku membutuhkannya untuk bisa meraupmu dalam-dalam hingga sekat-sekat persendian ini ngilu dibuatnya.”
Semesta sunyi seolah ikut menyimak percakapanku dan mu kala itu. Hikmat dan bersahaja.
“Aku tak suka dusta. Terlebih dusta yang menyeret kesucian sajakku.” Ucapanmu begitu sinis. Dan tatapan itu menjadi tatapan terasing yang pernah kulihat darimu.
Oh tidak. Kau benar-benar terbakar rupanya. Mampuslah aku.
Rupanya dustaku tak luput dari nyalangnya matamu. 
Tak ada lagi yang bisa kuucapkan padamu. Ucapanmu terlalu klise. Bahkan untuk sekedar kutanggapi.
Kau sering merajuk, terlebih melalui sajakmu. Hingga aku paham betul tabiatmu itu. Namun tidak kali ini, kau merajukku begitu intens.
Tapi bila dihitung-hitung, belum ada 5 menit kau menghanyutkanku pada biru nanarnya matamu.
Ah, bukan hanya biru kini yang kulihat. Ada warna kehijauan, kemerahan, sedikit ungu, dan sedikit jingga juga disana. Warnamu semakin beragam. Apakah itu memiliki arti bagus untukku?
“Berhentilah menilaiku,” ucapmu lirih menampar sanubariku. “Terlebih dari mataku. Percayalah, kau takkan mampu benar-benar mengetahuiku dari sana.” Lanjutmu yang membuatku semakin gamang duduk di hadapanmu.
“Berhentilah menilaiku dengan caramu.” Ucapmu lagi, yang kini mampu menyetel lagu 90an dari radio usang yang bunyinya masih keruan untuk sekedar menghibur jantungku yang berderap merayap demi menyusup melewati nanar matamu.
Ah, maaf bila kau tak suka. Matamu tetap akan menjadi lautan tenang bagiku, baik kini maupun beka.
“Berhentilah sampai disini.” Tekanmu lagi tak kenal menyerah.
“Berhentilah menyuruhku berhenti. Kau pikir karena sajakmu membuatku hidup, lalu kau dapat memerintahku sesukamu?” Tanyaku tak ingin begitu saja larut dalam narasi ciptaannya.
“Ada apa sebenarnya denganmu?” Akhirnya kuberani menanyakan pertanyaan 5 menit terakhir yang menghantam-hantam kepalaku hingga nyeri.
“Sudah kubilang, aku cemburu.” 
“Sungguh aku tak mengertimu.”
“Yah, seperti yang kubilang. Kau takkan mampu menilaiku dari mataku.”
“Selamat kalau begitu. Kau benar. Kau menang.”
“Aku memang benar, tapi aku tak ingin menang.”
“Lalu?”
“Aku bersamamu selama ini, dan dihadapanmu kali ini, bukan untuk menang.”
“Tapi nyatanya begitu. Kau menantangku dengan tajamnya matamu dan lidahmu sejak 5 menit yang lalu.”
Kau menarik napas dalam, kemudian kau lepaskan begitu perlahan. Begitu tenang. Bila saja aku tak ingat 5 menit penghakimanmu padaku, rasanya aku ingin meraup napasmu hingga menyatu denganku seutuhnya. Sayangnya, kau kini sedang menyebalkan. Hih.
“Kenapa kau terlihat sebal begitu?” Tanyamu. Aneh.
“Kau pikir kenapa?”
“Ya, kenapa?”
“Ah aku benci dirimu.”
“Akhirnya, kau ucapkan kata-kata itu juga.” Lirihmu tenang sekali. Membuatku makin bingung dan gamang. “Aku tak ingin membuatmu selalu mencintaku. Baguslah kalau kini kau bisa membenciku.” Sambungmu mengherankanku pada tingkat keheranan yang tertinggi.
“Aku baru selesai mencipta sajak untukmu. Bagaimana, suka?” Senyummu kembali merekah bersamaan dengan tatapan dalam yang begitu tenang. “Sajakku untukmu tak melulu perkara cinta juga keindahan. Kuharap kau belajar itu hari ini.” 

Tidak ada komentar: