Selasa, 04 Juli 2017

Pesan Kepada Angin

Pada malam terlampau sepi nan gusar, gemintang bergeming menatapku yang enggan menyapanya. Tak terlalu berbeda dengan malam-malam sepiku lainnya. Hanya saja aku yang dulu berkawan akrab dengannya, kini hanya bertemankan sepoi angin.
Sampai-sampai kedekatanku dengan angin membuatku merupainya; berkelana tanpa tujuan, acuh terhadap sekitar, dan seringkali membuat orang sekitar sakit bilamana terlalu lama bergelut dan bermesraan dengannya. Benar-benar aku telah merupai angin.
Tapi akhir-akhir ini aku tak pernah menemuinya.
Bilamana suatu hari aku bersua dengannya, maka akan segera kupertanyakan apa yang hati ini risaukan tentang apa-apa yang serupa itu. Tentang akhir dari hubungan angin dan segala disekitarannya; tentang  usaha angin untuk berubah menjadi lebih baik; tentang kesedihan angin terhadap sikapnya sendiri; tentang  kebanggan angin terhadap pribadinya; tentang berbagai rasa yang dirasakannya; tentang  apa yang tidak kuketahui lagi pertanyaan macam apa yang belum kuutarakan.
Semoga angin lekas menemuiku dan menjelaskan padaku setelah ini.

Tidak ada komentar: