“Yang kuiginkan hanyalah, harapku bersambut.”
Aku hanya terdiam menatapmu. Sedikit kusunggingkan seuntai senyum tuk sekedar membuatmu melihatku baik-baik saja. Setidaknya kau percaya itu, karena hatiku kini nyatanya remuk redam. Nyeri condong terpelintir.
Kutarik napas panjang sebelum kuciptakan lagi senyum semu dihadapanmu. Aku tak mengira, cemburu rasanya senyeri ini. Ah, entahlah apa yang harus kubenci. Dia, kamu, hati ini, atau pikiran sintingku sendiri yang selalu penuh akan imaji tentangmu.
“Aku hanya tak ingin kau masuk pada lubang yang sama.” Ujarku lirih, dan pedih. Entah kenapa suaraku mirip biola rusak. Benar-benar tidak enak untuk sekedar kudengarkan sendiri.
Mata bulatmu yang benar-benar hitam kelam, meraup udara sekitaranku. Sesak benar yang kau akibatkan. “Aku yakin, harapku akan bersambut. Entah esok, lusa, atau beka. Hanya tunggu waktu saja untuk benar-benar bersahabat dengan takdir semesta.”
Aku hanya bisa menatapmu tak percaya. Otakmu yang pintar itu kau kemanakan di saat seperti ini? Ah, kau ini bodoh atau tolol.
Jelas-jelas kau bisa hancur bersama harapan semumu. Tapi tetap saja kau pilih tekuni harap itu.
“Ah, kau tidak akan pernah mengerti memang.” Dengan ketusnya kau palingkan wajahmu dariku.
Baik baik, bila itu maumu. Urus saja sesukamu semua harapmu itu.
Apa-apa yang membuatmu bisa bertahan sebegitunya, semua bisa kutolerir. Terkecuali satu, kau butakan mata hatimu dengan mata duniamu.
Apa-apa yang membuatmu bisa bertahan sebegitunya, semua bisa kutolerir. Terkecuali satu, kau butakan mata hatimu dengan mata duniamu.
“Terserahmu saja kalau begitu.” Ucapanku terlalu dingin untuk sekedar kudengar sendiri. Hilang sudah kehangatanku untukmu. Cukup sudah, mungkin ini akhir kisah kita.
Kumohon, jangan lagi singgah. Kutahu pasti kau mengerti aku tak suka bila hanya disinggahi. Duniaku tidak akan pernah menyambut harapmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar