Tampilkan postingan dengan label Abstraksi Rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Abstraksi Rasa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 September 2017

Purna Purnama

Antara frasa yang bertaut kelindan pamer kemesraan fana, aku terdiam tergugu merangkai makna. Semua tentang purnama, katamu, yang selalu tertahan oleh segala rasa. Bahkan kopi pahit penghujung malam pun tak mampu gantikan segala sandiwara akan batasan rasa yang tak bermuara, sambutku yang tak kenal rana.
Lalu, antara sela palem-paleman dan temaram lampu jalanan kota, bersambut angin semilir yang senantiasa tunak pada keinginan rasa. Tiada canda tiada tawa mampu tercipta antara kita, sebab rasa yang khianati logika dengan lapang diterima semesta.
Tak apalah, semua terserahmu saja. Kutegak sekaligus segala derita yang terlanjur tercipta. Terserahmu saja mau menanggapi apa. Yang jelas, aku takkan mampu menjadi dia. Sama halnya dengan tidak akan pernah habis kisah purna purnama antara kita dalam sandiwara fana. 
Mungkin orang ‘kan iba bila saksikan derita yang terraba, namun purna purnama ‘kan bergelak abai dan membahana. Baginya, kita adalah sebatas ironi pengundang decak sunyi berebut sapa. Hingga terciptalah segala hampa yang bergema.
Sampai kapan pun juga, demi segala kenangan rindu bersama yang tak mampu terurai sempurna, kudermakan sajak purna purnama ini untukmu saja.

Jumat, 25 Agustus 2017

Kuakui, Aku Cemburu!

Hampir tepat tengah malam, dengan lantangnya hati ini berseru, bahwasanya aku cemburu. Sungguh. Nyeri betul rasanya. Cemburu ini seolah mampu memberangus raga rapuhku hanya dalam seperkian detik saja. Wush! Cepat sekali cemburu itu membakarku.
Celakanya, tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa diam dan membisu. Membiarkan cemburu ini terus menjalar dan membakar kalbu.
Tak ada sedikit pun kemanusiawian malam ini. Tak ada satu pun yang paham betul kemanusiawianku. Bahwasanya a k u c e m b u r u. Tapi tak apa, toh aku tak ingin juga orang lain terlalu memahamiku, aku takut kelemahanku akan tersaji hingga dilalati hingga kemudian membusuk mati.
Aku cemburu pada caramu mengenangnya. Aku cemburu pada caramu mengisahkannya. Aku cemburu pada caramu memperjuangkannya. Aku cemburu pada caramu menginginkannya. Aku cemburu pada segala hal caramu terkait tentangnya. Ya, aku sungguh cemburu. Aku cemburu karena aku pun ingin dikenang, dikisahkan, diperjuangkan, dan diinginkan seperti itu.
Tapi bukan darimu dan olehmu.

Senin, 24 Juli 2017

Duri Mawar

Setajam-tajamnya duri, dia tak pernah melukai mawar. Meski kerelaannya tuk lindungi keindahan mawar berujung pada kerisihan dan ketidaksukaan setiap insan. Hingga akhirnya ia pun hilang, atau sengaja dihilangkan, hingga hilang, dalam kerelaan tak terbatas yang tak berbalas.
Lalu, apa yang harus kumaknai dari kisah duri mawar ini?
Kurasa kini kucukup pintar, dan terlalu egois. Dibandingku yang terdahulu.
Aku tak ingin menjadi keindahan mawar yang rapuh. Ataupun berakhir setragis kerelaan duri.
Namun nyatanya aku terlalu naif. Dibanding siapa-siapa yang mencoba membacaiku hingga kemput melalui sajak-sajak bisuku.
Bahwasanya, aku tak ingin mengakui dalam kisah duri mawar; aku tak punya pilihan menjadi keduanya.
Aku bukanlah duri penuh kerelaan ataupun mawar rapuh itu. Bukan.
Aku adalah insan yang mencabut kerelaan duri dan membuat mawar semakin ringkih tuk kudekap.

Selasa, 04 Juli 2017

Pesan Kepada Angin

Pada malam terlampau sepi nan gusar, gemintang bergeming menatapku yang enggan menyapanya. Tak terlalu berbeda dengan malam-malam sepiku lainnya. Hanya saja aku yang dulu berkawan akrab dengannya, kini hanya bertemankan sepoi angin.
Sampai-sampai kedekatanku dengan angin membuatku merupainya; berkelana tanpa tujuan, acuh terhadap sekitar, dan seringkali membuat orang sekitar sakit bilamana terlalu lama bergelut dan bermesraan dengannya. Benar-benar aku telah merupai angin.
Tapi akhir-akhir ini aku tak pernah menemuinya.
Bilamana suatu hari aku bersua dengannya, maka akan segera kupertanyakan apa yang hati ini risaukan tentang apa-apa yang serupa itu. Tentang akhir dari hubungan angin dan segala disekitarannya; tentang  usaha angin untuk berubah menjadi lebih baik; tentang kesedihan angin terhadap sikapnya sendiri; tentang  kebanggan angin terhadap pribadinya; tentang berbagai rasa yang dirasakannya; tentang  apa yang tidak kuketahui lagi pertanyaan macam apa yang belum kuutarakan.
Semoga angin lekas menemuiku dan menjelaskan padaku setelah ini.

Rabu, 03 Mei 2017

Takut

Rindu ini semakin membisu. Hembuskan sepi tebarkan risau. Pun teramat pilu harapkan saut bersambut palsu.
Katamu, sore itu, tepat saat matahari bersinar setelah hujan “Tak perlu ada yang kau khawatirkan tentang kita”.
Aku hanya terpagut menatapmu hampa. Bukan karena aku gamang, tapi terlebih aku terpekur, bahwasanya aku salah kira. 
Tentangmu yang ternyata tak sedikit pun khawatirkan tentang kita.
“Kita kan selalu berteman. Baik sekarang, esok, lusa, maupun beka.” Sambungmu dengan senyum sumringah yang kau patenkan menjadi kekhasanmu.
Benar, aku pun setuju tentang itu. Tenang saja, aku tak pernah berpikir lebih dari itu. 
Aku cukup tau diri untuk tersadar akan segala hal yang tawarkan luka. Jujur saja yang kukhawatirkan adalah tentang dirimu seutuhnya.
Aku tak ingin kau terjebak dalam segala rasa yang tercipta dari segala suasana yang entah sejak kapan tercipta. Aku tak ingin kau nantinya menyeretku paksa merasakan rasa tabu itu. Aku tak ingin kau nantinya tinggalkanku seorang diri dalam kubangan pilu.  Aku tak ingin kau perdayaiku dengan tatapan melenakan itu.
Aku tak ingin….
Ah tunggu dulu. Rupanya aku salah bila  yang kukhawatirkan adalah tentang dirimu. Bukankah aku selalu berkutat tentang segala hal tentangku? Ah, ternyata.
Aku salah.
Jangan-jangan segala ketakutan yang kutujukan padamu sebenarnya kini sedang kualami? Jangan-jangan.
Oh tidak tidak.
Namun, bila iya, maka saat itulah aku menghilang dari duniamu.