Hampir tepat tengah malam, dengan lantangnya hati ini berseru, bahwasanya aku cemburu. Sungguh. Nyeri betul rasanya. Cemburu ini seolah mampu memberangus raga rapuhku hanya dalam seperkian detik saja. Wush! Cepat sekali cemburu itu membakarku.
Celakanya, tak ada yang bisa kulakukan. Aku hanya bisa diam dan membisu. Membiarkan cemburu ini terus menjalar dan membakar kalbu.
Tak ada sedikit pun kemanusiawian malam ini. Tak ada satu pun yang paham betul kemanusiawianku. Bahwasanya a k u c e m b u r u. Tapi tak apa, toh aku tak ingin juga orang lain terlalu memahamiku, aku takut kelemahanku akan tersaji hingga dilalati hingga kemudian membusuk mati.
Aku cemburu pada caramu mengenangnya. Aku cemburu pada caramu mengisahkannya. Aku cemburu pada caramu memperjuangkannya. Aku cemburu pada caramu menginginkannya. Aku cemburu pada segala hal caramu terkait tentangnya. Ya, aku sungguh cemburu. Aku cemburu karena aku pun ingin dikenang, dikisahkan, diperjuangkan, dan diinginkan seperti itu.
Tapi bukan darimu dan olehmu.