Posesif adalah bersifat merasa menjadi pemilik, dimana hal tersebut ditunjukkan dengan sifat cemburu yang berlebih dan terkadang minim alasan yang keruan. Setidaknya itu adalah makna dari posesif yang saya pahami sebelum saya menonton film Posesif atau membaca artikel terkait posesif lebih lanjut.
Posesif dibungkus secara sempurna dalam suatu film yang dibintangi oleh Adipati Dolken (sebagai Yudhis) dan Putri Marino (sebagai Lala). Saat mau menonton film ini, jangan harap kita akan menonton film remaja yang romantis, yang menye, yang bikin baper atau layaknya film remaja lainnya. Jangan harap.
Edwin, Sutradara film Posesif memaparkan bahwasanya, “Pada film
ini akan digambarkan tentang perasaan yang tidak terkontrol. Jatuh cinta yang
intens dan jatuh cinta itu enggak main-main.”
Kemudian Penulis
skenario, Gina S Noer, menyebutkan bahwa proses menulis Posesif dia lakoni
dengan riset pada siswa SMP sampai kuliah. Dia melihat bagaimana fenomena
hubungan pacaran yang kekinian. “Intinya dari ‘Posesif’
adalah jangan menganggap remeh perasaan jatuh cinta,” ujar Gina.
Lagu Banda Neira yang berjudul Sampai Jadi Debu, saya nobatkan sebagai lagu terromatis jauh sebelum lagu ini menjadi soundtrack film ini. Bahkan saya sering berkhayal bahwa lagu tersebut memang sengaja diciptakan teruntuk saya, tapi ntah oleh siapa, yang jelas bukan oleh kucing, namun kini terasa begitu menyeramkan. Bahkan untuk sekedar saya dengarkan sepintas lalu. Lagu yang manis manis dan romantis itu menjelma menjadi lagu penuh akan ancaman teror.
Teror yang sarat akan tuntutan untuk memiliki, menguasai, dan mengendalikan orangu yang disayangi maupun orang terdekat. Teror tersebut kurasa lebih seram dibanding film horror manapun, termasuk film garapan teranyar Joko Anwar yang sedang booming, namun belum juga berhasil saya tonton hingga saat ini, hih.
Bila saya belum menontonnya, lalu kenapa saya berujar teror akibat film Posesif lebih menyeramkan dibanding film horor Joko Anwar? Karena, jelas saja, bagaimana tidak seram kalau hal-hal yang berada di film itu ada di sekitar kita? Bisa jadi teman, sahabat, atau saudara kita yang mengalaminya, atau bisa saja itu terjadi pada diri kita sendiri. Sangat mudah membayangkannya, karena posesif adalah hal yang dianggap lumrah di kehidupan kita. Hih.
Saya kadang heran sama masyarakat Indonesia, giliran adegan bercinta yang menunjukkan kasih sayang justru di sensor, memberi contoh tidak baik katanya. Tapi giliran pukul-pukulan, tonjok-tonjokkan, atau hal apapun yang berbau kekerasan justru diperbolehkan. Sampai-sampai kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan dalam berpacaran hanya dianggap sebagai urusan masing-masing. Gila saja kau, bung.
Bila saya belum menontonnya, lalu kenapa saya berujar teror akibat film Posesif lebih menyeramkan dibanding film horor Joko Anwar? Karena, jelas saja, bagaimana tidak seram kalau hal-hal yang berada di film itu ada di sekitar kita? Bisa jadi teman, sahabat, atau saudara kita yang mengalaminya, atau bisa saja itu terjadi pada diri kita sendiri. Sangat mudah membayangkannya, karena posesif adalah hal yang dianggap lumrah di kehidupan kita. Hih.
Saya kadang heran sama masyarakat Indonesia, giliran adegan bercinta yang menunjukkan kasih sayang justru di sensor, memberi contoh tidak baik katanya. Tapi giliran pukul-pukulan, tonjok-tonjokkan, atau hal apapun yang berbau kekerasan justru diperbolehkan. Sampai-sampai kekerasan dalam rumah tangga atau kekerasan dalam berpacaran hanya dianggap sebagai urusan masing-masing. Gila saja kau, bung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar