Antara frasa yang bertaut kelindan pamer kemesraan fana, aku terdiam tergugu merangkai makna. Semua tentang purnama, katamu, yang selalu tertahan oleh segala rasa. Bahkan kopi pahit penghujung malam pun tak mampu gantikan segala sandiwara akan batasan rasa yang tak bermuara, sambutku yang tak kenal rana.
Lalu, antara sela palem-paleman dan temaram lampu jalanan kota, bersambut angin semilir yang senantiasa tunak pada keinginan rasa. Tiada canda tiada tawa mampu tercipta antara kita, sebab rasa yang khianati logika dengan lapang diterima semesta.
Tak apalah, semua terserahmu saja. Kutegak sekaligus segala derita yang terlanjur tercipta. Terserahmu saja mau menanggapi apa. Yang jelas, aku takkan mampu menjadi dia. Sama halnya dengan tidak akan pernah habis kisah purna purnama antara kita dalam sandiwara fana.
Mungkin orang ‘kan iba bila saksikan derita yang terraba, namun purna purnama ‘kan bergelak abai dan membahana. Baginya, kita adalah sebatas ironi pengundang decak sunyi berebut sapa. Hingga terciptalah segala hampa yang bergema.
Sampai kapan pun juga, demi segala kenangan rindu bersama yang tak mampu terurai sempurna, kudermakan sajak purna purnama ini untukmu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar