Kamis, 20 Juli 2017

Pengakuan

Pengakuan itu terlontar begitu saja. Terbawa angin kemudian larut dilarung debur ombak dan mengendap ke dasar palung samudera tak bermuara.
“Apa kau bilang?” tanyamu terkaget dibarengi wajah bingung. Ah, jangankan dirimu, aku saja bingung.
“Aku terbiasa hidup mengangkasa.” Ujarku yang kuyakin terdengar tegas, namun perasaan gamang hadir tanpa permisi.
“Ya, aku dengar kalimatmu itu. Tapi aku tak mengerti, apa maksudmu sebenarnya?” tanyamu sekali lagi, terdengar begitu tak sabar dan gusar.
Dengan sedikit cemas kutatap kedua mata coklat beningmu. Mata itu masih sama seperti mata yang begitu kusukai untuk menghabiskan waktu selama ini. Bening dan tabah, juga sedalam lumpur hisap. Sungguh melenakan.
“Jalanilah hidupmu, sesukamu. Pun begitu, aku. Jangan kenang lagi kisah kita, karena semua itu hanyalah ketidaksengajaan yang tidak akan pernah punya akhir indah.” Perlahan aku berusaha pilih diksi terbaik yang bisa kupikirkan. “Terutama bagimu, yang tak sedikit pun tahu bagaimana kerasnya hidup di angkasa.”
“Maka, ajari aku memahaminya.” Singkatmu buatku terkesiap. Besar juga ragamu menantang angkasa. “Lalu kenapa kau memilih untuk terbang? Padahal kau tahu, kau tak bisa begitu saja menembus halimun, meski kau terbang.” Sambungmu benar-benar tak sopan bagi seekor kupu-kupu malam bersayap hitam sepertiku.
Kali ini aku benar-benar tak mampu menahan air mataku untuk tidak mengalir. Guratan khawatir di matamu dan sudut bibirmu, buatku resah dan sedikit gusar.
“Bukan berarti seekor kupu-kupu malam bersayap hitam sepertimu tak mampu hidup bila tak diangkasa. Ataupun kewajiban tuk berada dibalik bayang-bayang raksasa di tapal batas cita dan realita.” Selorohmu seraya memelukku erat sekali, sampai-sampai kurasa aku kini menyatu dalam dirimu. “Jangan pernah terbang sendiri bila sayapmu pincang. Izinkan aku mengobatinya, lalu izinkan aku pula disisimu. Baik di angkasa maupun di bumi. Karena kau adalah satu jiwa hidupku.”

Tidak ada komentar: